
[Kamis, 30 Juni 2011] Bagi sebagian kaum Muslimin, perjalanan ibadah umroh dan haji bukan hanya sekedar
menyempurnakan prosesi atau ritual sebagaimana diwajibkan atau
disunnahkan syariat, tapi juga sebuah wisata religius. Salah satunya
adalah dengan melakukan ziarah. Dan salah satu tempat ziarah yang paling
diburu para jamaah haji atau mereka yang berumrah adalah
Gua Hira yang
terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya).
Gunung ini terletak
sekitar enam kilometer sebelah utara Masjidil Haram. Sekitar lima meter
dari puncak gunung, terdapat sebuah lubang kecil. Itulah yang disebut
Gua Hira, di mana Nabi Muhammad Saw mendapat wahyu pertamanya.
Sedangkan
tinggi puncak Jabal Nur kira-kira dua ratus meter, di sekelilingnya
terdapat sejumlah gunung, batu bukit dan jurang. Letak
Gua Hira di
belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit dengan ketinggian
sekitar dua meter. Di bagian ujung kanan gua terdapat lubang kecil yang
dapat dipergunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung arah
Makkah.
Untuk menuju puncak gunung, seseorang rata-rata
memerlukan waktu selama satu jam bahkan lebih dari dasar gunung.
Medannya cukup sulit karena tidak ada titian tangga. Para peziarah harus
mendaki melewati batu-batu terjal. Jalan bertangga hanya ditemukan
setelah tiga perempat perjalanan. Namun menjelang puncak gunung,
medannya sedikit ringan, peziarah bisa mendaki dengan santai.
Begitu
tiba di depan pintu gua, terdapat tulisan Arab ‘Ghor Hira’ dengan cat
warna merah. Di atas tulisan itu terdapat tulisan dua ayat pertama Surat
Al-Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira terletak persis di samping
kiri tulisan tersebut.
Panjang gua tersebut sekitar tiga meter
dengan lebar sekitar satu setengah meter, dan ketinggian sekitar dua
meter. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan
untuk shalat dua orang. Di bagian kanan gua terdapat teras dari batu
yang hanya cukup digunakan untuk shalat dalam keadaan duduk.
Dengan
kondisi seperti itu, Gua Hira merupakan tempat yang ideal di Makkah
bagi Muhammad untuk bertahannuts. Suasananya tenang, dan jauh dari
keriuhan kota Makkah kala itu. Dan tentu saja, Muhammad telah
mempertimbangkan dengan matang pemilihan gua ini sebagai tempatnya
'mencari' Tuhan.
Beliau juga telah memperbincangkan tempat itu
dengan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Oleh sebab itu, terkadang di
malam yang pekat, Khadijah beberapa kali mengunjungi Muhammad. Dapat
dibayangkan bagaimana beratnya medan yang ditempuh Khadijah Al-Kubra
saat itu, ketika mengunjungi suaminya di Gua Hira.
Saking
vitalnya peran Gua Hira dalam sejarah Islam, salah seorang pakar sejarah
Islam asal Mesir, Husain Mu’nis, mengatakan Gua Hira layak disebut
sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam. "Gua Hira, tak pelak lagi,
merupakan masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu Rasulullah
melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau
menerima wahyu," ujarnya.
Bagaimanapun jua, walau tak harus
menyebut Gua Hira sebagai masjid pertama di dunia, namun peran vitalnya
sebagai tempat diturunkannya wahyu pertama kali, menjadikannya sebagai
tujuan ziarah yang selalu dikerubuti jamaah.